Masalah Diri

5 Mitos Seputar Self Harm

Oleh Salsabila Ainurrohman

Ada banyak cara yang dilakukan seseorang ketika berhadapan dengan masalah dalam hidupnya. Ada yang mengekspresikannya lewat tangisan, lewat marah-marah, bahkan ada juga yang malah meluapkan rasa sakit dengan menyakiti diri sendiri. Dalam istilah psikologinya dikenal dengan self injury atau self harm

 

Pernah nggak kamu melihat seseorang dengan banyak bekas luka di bagian tangannya? Atau bahkan kamu sendiri yang punya pengalaman ini? Nah, self harm ini adalah tindakan melukai tubuh sendiri (seperti menyayat, membakar kulit, membenturkan kepala ke tembok, dst dst) sebagai cara untuk melampiaskan emosi mereka.

 

Meski terdengar “mengerikan”, ternyata, nggak sedikit lho orang yang melakukan self harm. Setiap tahunnya, 1 dari 5 perempuan dan 1 dari 7 laki-laki melakukan self harm. Sayangnya, perilaku self harm ini masih sangat tabu buat dibicarain. Banyak stigma dan mitos seputar self harm yang sebenarnya keliru yang tentu aja penting banget buat diluruskan. Apa aja ya mitos-mitos tersebut?

 

Orang Self Harm Cuma Cari Perhatian

 

Orang yang suka “nyilet” tangan sendiri misalnya, seringkali disebut-sebut “ngapain sih. Paling itu mah caper aja” atau “lah itu mah kurang bersyukur aja anaknya”.  Nah, ini adalah mitos pertama. Meskipun self harm adalah cara seseorang menunjukkan kalau dirinya butuh bantuan, kebanyakan perilaku self harm dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Jadi bukan untuk mencari perhatian orang lain, tapi semata-mata dilakukan sebagai cara mereka meluapkan emosi mereka.

 

Self Harm itu Percobaan Bunuh Diri

 

Ups.. ini mitos kedua. Self harm seringkali dilakukan sebagai bentuk mekanisme coping atau cara melampiaskan emosi negatif, hanya saja dengan cara yang negatif. Perilaku ini dilakukan secara sadar, tanpa bertujuan untuk bunuh diri. Bagi orang yang melakukan self harm, seringkali rasa sakit yang mereka dapatkan ketika menyakiti diri sendiri itu dianggap bisa sedikit meringankan beban dalam diri mereka. 

 

Cuman Luka Kecil Kok, Biarin Aja

 

Mau baru pertama kali self harm kek, duka kali, bahkan sampai udah berkali-kali sampai menyisakan banyak luka di tubuh, ya namanya self harm tetep aja self harm, berbahaya. Seringkali kalau udah sekali melakukan self harm, seseorang jadi “kecanduan” untuk melakukannya lagi dan lagi, sehingga penting banget untuk segera diatasi.

 

BACA JUGA: 3 Tips Mencegah Keinginan Self Harm

 

Hanya Dilakukan oleh Perempuan dan Remaja

 

Ini mitos selanjutnya, yang menyebutkan kalau cuman ABG labil caper aja yang suka melakukan self harm. Padahal, risetnya menunjukkan kalau 30-40% orang yang melakukan self harm adalah laki-laki lho. Selain itu, nggak cuman remaja aja, self harm juga banyak dilakukan dari anak usia 7 tahun sampai usia dewasa juga. 

 

Self Harm Nggak Bisa Diobatin 

 

Ada juga yang menyebutkan kalau self harm ini adalah kebiasaan yang nggak bakal bisa diubah atau diobati. Faktanya, kebiasaan menyakiti diri sendiri ini bisa banget kok diobati dan dicari solusinya. Beberapa terapi seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) atau Dialectic Behavioral Therapy bisa membantu mengurangi kebiasaan self harm.

 

Itulah 5 mitos seputar self harm yang perlu kamu ketahui. Kalau kamu lagi berjuang dengan masalah serupa, cobalah untuk mulai alihkan kebiasaan self harm kamu dengan aktivitas lain. Misalnya dengan menggambar di tangan menggunakan spidol warna, atau dengan mengalihkan pikiran self harm kamu dengan aktivitas positif yang kamu sukai. Jika kamu merasa kesulitan mengatasi ini, ada baiknya kamu berkonsultasi dengan profesional untuk mendapatkan penanganan yang tepat ya.

 

Selain itu, Ibunda juga punya nih kelas online ‘Steps to Self Harm Recovery’ yang bisa kamu ikuti untuk membantu kamu mengurangi kebiasaan self harm. Dengan fokus self compassion therapy, kamu juga bakal langsung diarahkan sama psikolog profesional Ibunda, Alfath H Megawati, M.Psi lho. 

 

Yuk daftarkan diri kamu sekarang juga di link berikut: Kelas Ibunda - Self Harm 


Tanggapan mereka