Kata Bunda

Ada Apa Dibalik Second Account?

Oleh Salsabila Ainurrohman

Kalau pas zamannya mas Anang dan Krisdayanti masih abege, anak kekinian kala itu adalah orang-orang yang hobi surat-menyurat. Dulu hal kaya gini gaul banget, romantis abis. Nah kalau sekarang, udah lebih canggih. Zamannya beralih ke zaman Aurel dan Azriel di mana orang-orang ngga usah repot nunggu abang-abang pos lewat untuk berkirim pesan sama pujaan hati. Sekali klik, pesan apa pun bisa sampai langsung tanpa perlu membuang banyak waktu dan tenaga.

 

Yup, lewat media sosial.

 

Selain untuk media interaksi jarak jauh, media sosial juga punya banyak fitur menarik yang membuat penggunanya seakan ‘candu’ menggunakannya. Melansir dari CNN Indonesia, rata-rata pengguna internet di Indonesia menghabiskan lebih dari 3 jam untuk mantengin media sosial mereka.

 

Selain waktu akses yang lumayan lama, fenomena unik lain yang ada di dunia per-sosmed-an adalah ada banyak di antara para pengguna media sosial yang bahkan punya lebih dari satu akun dalam satu platform media sosial. Data dari Facebook menunjukkan, setidaknya ada 200 juta fake account per Desember 2017, dan Indonesia disebut-sebut sebagai negara dengan jumlah akun palsu terbanyak dibandingkan dengan negara lainnya. Ayolo.. kamu kah salah satu makhluk yang bersembunyi di balik second account di dunia maya?

 

Alasan Membuat Second Account

 

Media sosial memang dibuat ibarat buku harian, di mana siapa pun bisa update apa aja secara real time. Sayangnya, terkadang kita tidak bisa asal update sembarangan. Saat ini banyak perusahaan yang ‘memantau’ karyawan atau calon karyawannya melalui media sosial. Dengan kata lain, profil media sosial jadi semacam portofolio yang mana kita seakan dituntut untuk memposting hal-hal yang positif untuk menciptakan citra diri yang positif. Ngga hanya citra positif di dunia karir, namun juga citra positif di mata teman-teman dan followers yang jumlahnya segambreng.

 

Inilah yang membuat banyak orang memilih untuk membuat second account, di mana di akun ini seseorang bisa jadi diri mereka sendiri karena bisa posting apa aja, curhat apa aja, atau bahkan mengumpat sekali pun tanpa khawatir adanya pandangan negatif dari orang lain. Ada juga orang yang bikin second account untuk kebutuhan riset (red. stalking mantan sampai follow akun lambe-lambean).

 

Biasanya second account dibuat berbeda dengan real account. Dari mulai nama profil, foto, sampai akun yang di follow. Ibarat manusia dengan dua kepribadian, second account ini jadi sisi lain si pemilik akun.

 

Dampak Psikologis

 

Tidak ada yang salah dengan membuat second account. Jika berkaitan dengan kebutuhan pekerjaan, branding diri yang positif tentu hal yang penting untuk dilakukan. Mayoritas pengguna second account juga biasanya memang lebih ekspresif di akun palsunya karena lebih leluasa dalam menuangkan perasaannya.

 

Sayangnya, keberadaan second account atau fake account ternyata bisa membuat seseorang tidak menerima dirinya apa adanya karena terobsesi dengan ‘kesempurnaan’. Semua konten yang diunggah jadi tidak merefleksikan dirinya sendiri, melainkan Ia telah membiarkan lingkungan yang mendefinisikan dirinya.

 

Memang setiap konten yang kita post di media sosial harus dipertanggung jawabkan karena bisa disaksikan oleh seluruh penduduk dunia maya. Jadi, alangkah baiknya media sosial digunakan untuk menyebarkan virus-virus positif supaya bisa bermanfaat untuk orang banyak dan tentu untuk diri kita sendiri.

 

Trus kalau mau curhat, lagi emosi pengin mara-mara dan kesel, ke siapa dong? Ada tempat yang pas nih buat kamu. Cek deh LINE @Ibunda atau website di www.ibunda.id. Di sini kamu bisa cerita apa aja masalah yang kamu hadapi, sambil Bunda bantu carikan solusi dari sudut pandang psikologis. Keren ngga tuh? Kuy curhat sekarang sama Bunda.

 


Tanggapan mereka