Masalah Diri

Alasan Seseorang Menyalahkan Korban Pelecehan Seksual

Oleh Ariffah Nourma Juwita

Ada yang sempat viral nih di dunia maya, tentang seorang yang menyebut dirinya sebagai psikoterapis berinisial DS yang diberitakan menyalahgunakan profesinya dengan melakukan pelecehan pada beberapa pasiennya. Mirisnya, ketika para korban berbondong-bondong menceritakan pengalaman mereka, justru masih aja ada reaksi netizen yang malah menyalahkan korban (victim blaming).

Dibilang “lagian kenapa diem aja?”, “kalo aku jadi kamu sih pasti udah teriak dan kabur”, “kamu sih mau-maunya sih diajak ngamar”. Kalimat itu bukannya membantu menenangkan, tapi membuat korban semakin marah dengan dirinya dan keadaannya. Kenapa, ya, netizen bisa sampai sejahat itu?

Selain bersumber dari rendahnya simpati dan juga empati serta kurang terbukanya pemikiran seseorang, ternyata tendensi untuk menyalahkan korban dalam suatu tragedi memang sudah jadi watak dasar kebanyakan dari kita, lho. Mengutip dari Psychology Today, kita umumnya memiliki pandangan yang positif terhadap dunia dan kehidupan ini. Kebanyakan dari kita menganggap bahwa hal baik terjadi pada orang yang baik, begitu pula sebaliknya, hal buruk terjadi pada orang yang buruk tindak tanduknya. Hal ini disebut “positive assumptive worldview”.

 

Baca Juga: Fakta Psikologis Fenomena Catcalling

 

Pandangan ini pula yang membuat kita kerap kali merasa bahwa dunia ini tidak adil, karena orang baik masih saja ditimpa keburukan, sedangkan banyak juga orang jahat yang justru nyaman hidupnya. Padahal, secara sadar, sebetulnya kita tahu bahwa musibah, kecelakaan, tragedi, dan sebagainya terkadang tidak terhindarkan dalam hidup kita. Ia tidak memandang apakah kita baik atau jahat. Segala hal, entah baik atau buruk, pada dasarnya bisa terjadi kepada siapa saja.

Dengan begitu, kita jadi paham mengapa orang dengan asumsi semacam ini lebih mudah menyalahkan pihak korban dibandingkan pelakunya. Ia menganggap bahwa orang yang menjadi korban pelecehan seksual adalah orang yang juga sebetulnya salah: mungkin ia berpakaian terlalu minim, mudah terpancing bujuk rayu orang lain, atau bahkan dia sebetulnya menikmati itu karena keuntungan yang mungkin saja dia peroleh dari pelaku. Inilah mengapa mereka mudah menyalahkan korban. Padahal kenyataannya, banyak dari korban pelecehan dan perkosaan yang sebetulnya sudah cukup berhati-hati, termasuk dalam berpakaian. Tetapi, nyatanya pelecehan seksual seringkali tidak terhindarkan, karena pada dasarnya kesalahan bukan ada pada korban, tapi semata-mata ada pada pelaku.

 

Baca Juga: Kekerasan Seksual dan Trauma yang Ditinggalkan

 

Nah, belajar dari kasus DS ini, sudah sepatutnya kita sebagai warganet yang budiman, bijak, dan berwawasan luas untuk menghentikan kebiasaan menyalahkan korban pelecehan seksual. Kita tidak tahu persis luka apa yang mereka tanggung, beban hidup apa yang harus mereka lewati, serta sebesar apa keberanian yang perlu mereka kumpulkan untuk sekedar menyuarakan kebenaran. Dengan demikian, kita seharusnya memberikan dukungan positif untuk membantu menyembuhkan luka batin yang dirasakan korban. 


Tanggapan mereka