Masalah Diri

Benarkah Media Sosial Membahayakan Kesehatan Mental?

Oleh Salsabila Ainurrohman

Kok like nya dikit banget sih? Hapus aja deh

Posting ini nggak ya.. Nanti orang-orang bakal mau like nggak ya..

Liat IG Story nya dia kayaknya hidupnya seru banget, kenapa aku nggak bisa kaya dia?

 

Nggak sedikit orang yang bilang kalau media sosial itu nggak bagus, katanya membahayakan kesehatan mental. Faktanya, dalam tingkatan serius memang ada beberapa kasus depresi dan stres yang bersumber karena sosial media. Risetnya Canadian Association of Mental Health menemukan, anak-anak di kelas 7-12 yang menghabiskan waktu lebih dari dua jam sehari dengan media sosial memiliki tingkat kecemasan, depresi, sampai pemikiran bunuh diri yang tinggi.

 

Ironisnya, coba lihat di sekitar kamu. Teman-teman, keluarga, kerabat terdekat, kita semua adalah pengguna media sosial akut yang katanya membahayakan itu. Kita menghabiskan waktu berjam-jam untuk scroll scroll, ketika sebenarnya banyak aktivitas lain yang bisa kita lakukan selain itu.

 

Apa sih yang bikin bahaya dari media sosial? Bailey Parnell dalam salah satu sesi TEDx Talks menjelaskan ada 4 stressor atau sumber stres di media sosial. Highlight Reel, Social Currency, Fear of Missing Out (FOMO), dan kekerasan online.

 

Highlight Reel

 

Setiap orang pasti punya momen terbaik atau masa-masa indah dalam hidupnya. Inilah yang biasanya dia posting di media sosial, ya karena media sosial jadi tempat seseorang bisa membuat highlight reel nya sendiri jadi yang di posting ya apa yang menurut dia oke dan penting (dan menghasilkan banyak like).

 

Ini, otomatis membuat penontonnya membandingkan diri dengan apa yang dia lihat, membandingkan dengan setiap highlight reels yang orang lain buat. Dampaknya apa? Membandingkan diri dengan orang lain itu membahayakan kesehatan mental lho karena bisa memicu stres, berkurangnya kepercayaan diri, dan menimbulkan kecemasan.

 

Social Currency

 

Kalau dalam ekonomi, kita menggunakan uang untuk menentukan nilai suatu produk. Kalau di media sosial, komentar, like, dan share jadi penentu nilai bagus atau tidaknya suatu ‘produk’  yang nggak lain kita lah yang jadi ‘produknya’. Contoh kasusnya misalnya ketika seseorang menghapus foto yang udah dia upload, karena jumlah like nya tidak sebanyak yang dia inginkan. Ini sama aja kaya penjual tamagoci, yang menarik barangnya dari pasaran karena kurang peminatnya.

 

FOMO

 

Fear of Missing Out atau FOMO adalah sebuah fenomena kecemasan sosial yang muncul karena merasa takut ketinggalan sesuatu yang penting di luar sana. Itulah kenapa, fenomena FOMO ini terjadi ketika orang-orang greget untuk cek handphone nya secara terus menerus. Bahkan sampai muncul istilah Phantom Vibration Syndrome, atau ketika seseorang merasakan sensasi hp yang bergetar padahal ketika hp dalam kondisi tidak aktif. Dan tahukah kamu, syndrome ini ternyata terjadi sama 90% pengguna smartphone lho!

 

Kekerasan Online

 

Sosial media seperti halnya sebuah komunitas, yang di dalamnya seakan ada ‘aturan sosial’ tak tampak buat penggunanya. Posting yang nggak oke, kena bully lah, punya pendapat yang berbeda, kena bully juga, berperilaku nyeleneh, haters di mana-mana, bahkan sampai dilecehkan juga banyak kasusnya. Bahkan ada seorang remaja di Malaysia yang meninggal bunuh diri setelah membuat polling di akun Instagram miliknya. Dari polling yang dia buat ini, sebagian besar netizen setuju kalau dia mengakhiri hidup, hingga akhirnya dia nekad melakukan bunuh diri

 

 

Nah, itulah beberapa sumber stres di media sosial yang seringkali nggak sadar kita alami. Jadi, haruskah berhenti main Instagram dan kawan-kawannya itu? Nggak juga kok. Kalau diperhatiin nih, yang menjadi masalah di media sosial itu bukan media nya, tapi penggunanya. Inilah hal yang perlu kita fokuskan, kenali sumber masalahnya. Selain itu, sama seperti kita memilih makanan yang masuk ke tubuh, kita juga penting untuk memilih informasi apa yang baik buat kita terima. Karena, kamu sendiri lah yang jadi penentu pengalaman online kamu menjadi positif, atau malah sebaliknya.

 

Buat kamu yang butuh temen cerita dan ingin meluapkan masalah kamu, sebaiknya jangan di media sosial dulu ya. Kamu bisa coba cara lain seperti curhat sama Bunda. Konselor terlatih di Ibunda.id siap menjadi pendengar terbaik kamu di mana aja kapan aja. Yuk #BeraniBercerita bersama Bunda di www.ibunda.id atau di LINE @Ibunda untuk kesehatan mental yang lebih baik.

 


Tanggapan mereka