Pertemanan

Ciri-ciri Toxic Friend, Sahabat yang Merusak

Oleh Salsabila Ainurrohman

Pernah ngga sih kamu curhat ke sahabat kamu, terus dia malah bilang ‘ah lebay lu mah’ atau ‘baper banget sih gitu doang’? Kalo kamu pernah dalam posisi ini, bisa jadi kamu lagi berada dalam pertemanan yang ngga sehat, atau nama kerennya toxic friend.

 

Toxic friend adalah istilah untuk teman atau sahabat yang memberikan banyak efek negatif ke diri seseorang. Menjalin hubungan pertemanan sama toxic friend bukannya bikin hepi, yang ada malah makan hati. Ya sebenernya mungkin dia ngga bermaksud menyakiti kamu, tapi kalau kamu merasa dirugikan setiap cerita sama dia, ya cape di kamu dong.

 

Seorang teman atau sahabat idealnya bisa membuat kamu nyaman setiap cerita sama dia, menemani di suka duka, dan sama-sama bisa jadi moodbooster satu sama lainnya. Kehadiran sosok temen kaya gini juga ternyata penting dalam hidup seseorang, bahkan kata studi bisa meningkatkan resiko panjang umur sampai 22%.  

 

Sayangnya, ngga gampang untuk bisa punya temen yang bisa memberikan good vibes. Banyaknya malah toxic friend atau teman ‘beracun’ yang ternyata bisa berdampak buruk sama kesehatan mental. Toxic Friend bisa memicu stress dengan tanda-tanda meningkatnya tekanan darah, daya tahan tubuh menurun, anxiety atau gangguan kecemasan, merasa insecure, dan kalau terus-terusan bisa beruntun gangguan kesehatan mental yang bakal muncul.

 

Terus, gimana caranya kita tau kalau teman kita ternyata toxic friend? Mengutip dari Psychology Today, ada beberapa tanda-tanda yang bisa mengindikasikan toxic friend dalam hubungan persahabat kamu. Apa aja ya?

 

Kamu Merasa Berkompetisi dengan ‘Sahabatnya yang Lain’

Tanda yang pertama, kamu seringkali melihat teman-teman dari sahabat kamu sebagai saingan kamu. Ini seringkali bikin kamu insecure dengan diri sendiri, karena seakan takut sahabat kamu berpaling dari kamu.  

 

 Waktu Ngobrol yang Ngga Seimbang

Suatu ketika sahabat kamu nelfon, dia curhat ini itu panjang lebar, dan kamu sebagai sahabatnya tentu seneng dong denger dia mau cerita. Etapi, pas giliran kamu yang mau berbagi cerita, dia malah tak acuh dan mengalihkan obrolan ke hal lain, atau bahkan pergi dengan alasan sibuk. Ini bisa bikin kamu merasa tidak penting dan tidak berharga. Kan bahaya.

 

Dia yang Selalu Mengkritik

Mengkritik sahabat emang ngga ada salahnya. Tapi, kalau kritik berlebihan ternyata menyakitkan bagi orang lain apalagi sahabat, perlukah tetap jujur? Sekali dua kali wajar, tapi kalau dia keseringan komentar pedas tentang diri kamu, wajar aja kalau kamu ngerasa down tiap kali lagi sama dia. Sedekat apapun kamu dengan sahabat kamu, namanya kritik pedas yang terlalu brutal tetap aja ngga baik.

 

Sahabat yang toxic juga dicirikan kalo dia sering banget melihat sesuatu dari hal-hal negatif. Kalau netizen millenials bilangnya 'suka julid', apa-apa yang dia lihat selalu di julid-in. Wah, lama-lama kebiasaan julid ini bisa juga nular ke kamu lho. 

 

Siapa yang Lebih Peduli?

Sebuah hubungan persahabatan bisa jadi toxic kalau cuman satu pihak aja yang berjuang dan mempertahankan. Sebaliknya, merasa dikejar-kejar sama orang yang ngga bikin kamu nyaman juga mengganggu banget kan? Untuk itu, namanya sahabatan itu emang harus saling dua-duanya, saling membutuhkan satu sama lain, jadi ngga berat sebelah.

 

Berasa Jalan di Cangkang Telur

Awalnya, setiap momen sama sahabat kamu selalu menyenangkan, kamu enjoy dengan koneksi yang terjalin. Tapi kemudian seiring waktu kok kayaknya ada yang berubah. Dia seakan berbalik arah dan kalian jadi sering banget berantem. Akhirnya kamu memulai untuk sangat berhati-hati, bahkan cenderung berlebihan (ibarat kaya berjalan di atas cangkang telur) karena takut salah ngomong dan takut sahabat kamu pergi. Kamu mulai menerka-nerka, apa ya yang akan terjadi selanjutnya?

 

Stress: Ketika Tubuh Mulai Bereaksi

Sering ngerasa cemas, khawatir, sakit kepala, mengalami masalah susah tidur dan susah konsentrasi, bisa jadi salah satu tanda kamu lagi stress. Stress karena apa? Coba cek kondisi hubungan kamu sama sahabat kamu, yakin bukan dia penyebabnya? Kalau ternyata kamu menjalin hubungan sama orang yang toxic, bisa aja ternyata itu yang jadi sumber stressnya.

 

Berada dalam sebuah hubungan persahabatan yang positif bisa meningkatkan sistem imunitas dalam tubuh, sebaliknya, persahabatan yang toxic justru merusak diri kamu. Memang, namanya dalam sebuah hubungan pasti selalu ada naik turunnya, ngga melulu haha-hihi doang, tapi kalau ternyata efek negatifnya lebih banyak ke diri kamu, buat apa dipertahankan?

 

Tapi bukan berarti langsung memutus tali pertemanan gitu aja lho ya. Tetaplah jalin komunikasi yang baik, karena toh dia pernah jadi bagian penting di hidup kamu. Yang bisa kamu lakukan adalah dengan mengurangi intensitas bersama secara perlahan-lahan, supaya kamu juga bisa menjaga jarak tanpa meninggalkan kesan negatif. 

 

Nah, buat kamu yang lagi punya masalah sama sahabat kamu dan bingung mau cerita ke siapa, cerita aja yuk sini sama Bunda. Kunjungi Bunda ya di www.ibunda.id, atau ke LINE @Ibunda, Bunda tunggu cerita kamu.  

 


Tanggapan mereka