Masalah Diri

Di Balik Ancaman Terorisme

Oleh Yonathan

Indonesia kembali berduka. Setelah adanya kerusuhan di Rumah Tahanan Markas Komando (Mako) Brimob yang menewaskan 5 polisi, kini sebuah tragedi kembali terjadi. Pagi tadi, 3 bom meledak di 3 gereja yang berbeda di Surabaya dan menewaskan lebih dari 11 orang.

Banyak dari kita yang kemudian bertanya-tanya, orang macam apa yang tega melakukan perbuatan seperti itu? Ternyata tidak seperti pemikiran kebanyakan orang, kebanyakan teroris bukanlah seorang psikopat atau mempunyai sadisme.

Kebanyakan dari mereka hanyalah orang biasa seperti kita, yang dibentuk oleh dinamika kelompok untuk mencelakakan atas nama sesuatu yang mereka anggap benar dan mulia. Ironisnya, dinamika kelompok melibatkan kita semua; reaksi kita yang berlebihan dan rasa takut dapat melahirkan ekstremisme.

Dounia Bouzar, seorang antropologis dari Perancis menyebutkan kalau remaja-remaja yang sudah dipengaruhi hanya bisa “kembali” dengan adanya tarikan bersifat emosional, karena memberikan alasan-alasan yang rasional rupanya tidak berpengaruh kepada mereka.

Penelitian oleh Phillip Zimbardo membuktikan kalau sebenarnya setiap orang, dalam situasi yang benar (atau sebenarnya salah), dapat “dituntun” untuk melakukan kekerasan yang ekstrem, dan begitu juga terorisme.

Terorisme sendiri adalah taktik politik dan psikologi, tapi gambar besarnya adalah berusaha memenangkan pertarungan untuk ide “bagaimana seharusnya masyarakat berjalan”. Jika kita ingin menang, kita harus mendemonstrasikan kalau ada nilai dalam kebebasan, demokrasi, dan kedamaian.


Itulah yang teroris takuti, karena sebetulnya mereka lah yang digerakkan oleh rasa takut. Takut tidak didengar, tidak lagi dianggap, tidak lagi berkuasa, tidak lagi menjadi sesuatu yang relevan. Karena mereka tahu kalau ada yang tarik yang tinggi dari dunia yang mendukung kebebasan individu, kebebasan dari teror religius, dan pencarian untuk hidup yang lebih baik. 

Ayo kita bersatu, dan bersama kita hentikan terorisme.


Tanggapan mereka