Kata Bunda

Kekerasan Seksual dan Trauma yang Ditinggalkan

Oleh Salsabila Ainurrohman

Lucu nya negeri ini. Ketika seorang perempuan menjadi korban dari tindakan kekerasan seksual, bukannya mendapat dukungan moral malah dikasih label ‘cewek ngga bener’, penampilannya disalahkan, dianggap lebay, sampai dikucilkan dari lingkungan sosialnya. Dan si pelaku, dengan mudahnya kembali menjalani aktivitasnya sehari-hari tanpa beban.

 

Tunggu dulu, yang tersangka siapa tapi kok yang kena sanksinya siapa?

 

Seperti baru-baru ini ramai diperbincangkan di media sosial, seorang mahasiswi UGM yang mengaku menjadi korban kekerasan seksual oleh temannya sendiri saat menjalankan program KKN di Maluku. Kasus ini ternyata menimpa dia di pertengahan tahun 2017 lalu, tapi sampai sekarang belum tampak ujung kasusnya seperti apa. Malah, si korban justru mendapatkan nilai C di program KKN nya. Bahkan ada oknum birokrasi kampus yang menyebutkan kalau kejadian yang dialami mahasiswa ini bukan pelanggaran berat sehingga ngga perlu penanganan serius. Lha, piye jal?

 

Kekerasan seksual, pemerkosaan, dan pelecehan sering banget dianggap tabu untuk dibicarakan, tapi tidak tabu untuk dilakukan. Budaya Victim Blaming atau menyalahkan korban,  jadi salah satu alasan kenapa banyak korban kekerasan seksual yang memilih untuk ngga cerita ke siapa-siapa atau bahkan melaporkan. Faktanya, ada lebih dari 90% kasus pemerkosaan di Indonesia yang ngga dilaporkan ke pihak berwajib. Padahal, kekerasan seksual itu bukan aib yang harus ditutupi, karena itu terjadi bukan atas kemauan sendiri tapi kejahatan dari pelakunya. Salut untuk mahasiswi UGM tadi, berani menyuarakan hak nya dan menjadi contoh kalau tindak kekerasan seksual itu harus dilaporkan!

 

Dampak Psikologis Kekerasan Seksual

 

Tindakan kekerasan seksual nyatanya bisa memberikan dampak jangka panjang pada korbannya. Mengutip dari jurnal Psikologi UIN Malang, ada beberapa dampak psikologis yang bisa dialami oleh korban kekerasan seksual.

 

Pertama adalah gangguan perilaku, ditandai dengan kehilangan gairah atau rasa malas dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Kedua, gangguan kognitif, ditandai dengan kesulitan untuk berkonsentrasi, kurang fokus ketika belajar atau bekerja, dan sering melamun sendiri. Dampak yang ketiga adalah gangguan emosional, ditandai dengan adanya gangguan mood (atau orang bilangnya moody) dan muncul sikap sering menyalahkan diri sendiri. Ngga hanya itu, riset juga menunjukkan seseorang yang menjadi korban kekerasan seksual biasanya diliputi rasa marah, benci, dan dendam dalam dirinya.

 

Dari dampak psikologis yang muncul, juga menunjukkan adanya gejala PTSD atau Post Traumatic Stress Disorder. PTSD adalah kondisi yang muncul setelah seseorang mengalami pengalaman luar biasa yang mengerikan, dan mengancam jiwanya. Seperti peristiwa bencana alam, kecelakaan, dan menjadi korban tindak kekerasan seksual.

 

Kalau ingatan akan kejadian traumatik sering muncul berulang-ulang, adanya perilaku menghindar, muncul reaksi berlebihan terhadap suatu kondisi atau suasana yang mirip pas kejadian traumatis, nah kondisi-kondisi tersebut jadi tanda-tanda dari PTSD. (Kenali ciri-ciri PTSD, baca di sini)

 

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

 

Jadi gini, trauma akibat pemerkosaan bukanlah bentuk dari cedera fisik atau semata-mata karena adanya keterlibatan seks dari luar. Trauma itu muncul ketika kekuatan pribadi dan kesucian diri seseorang harus terenggut. Artinya, trauma akibat perkosaan datang karena seseorang merasa dilakukan seperti bukan manusia oleh orang lain.

 

Dan lagi, ketika mental udah trauma dan ngga mendapat support dari lingkungannya, maka bisa memunculkan negative belief atau pandangan negatif terhadap diri sendiri yang juga berpengaruh sama kondisi psikis maupun psikologisnya. Untuk itulah support sosial dari orang-orang sekitar itu penting banget. Gunanya? Untuk memanipulasi kognisi bahwa apa yang terjadi ngga seburuk apa yang dipikirkan, sehingga akhirnya subyek bisa kembali bangkit dari trauma nya dan beraktivitas seperti sedia kala. (Mengatasi trauma pelecehan seksual? Baca di sini)

 

Untukmu yang ingin cerita soal masalah ini, entah kamu sebagai subjek kekerasan seksual, atau ingin support kerabat kamu yang struggle dengan kasus serupa, semuanya, ceritakan kisah kamu ke iBunda. Bunda siap jadi personal counselor kamu! Hubungi bunda di www.ibunda.id atau LINE @Ibunda ya. Bunda tunggu kisahmu!



 

 

data source:

 

http://psikologi.uin-malang.ac.id/wp-content/uploads/2014/03/Dinamika-Psikologis-Kekerasan-Seksual-Sebuah-Studi-Fenomenologi.pdf

https://www.komnasperempuan.go.id/

https://www.voaindonesia.com/a/survei-93-persen-pemerkosaan-tidak-dilaporkan/3434933.html


Tanggapan mereka