Keluarga

Mengkomunikasikan Mental Ilness pada Orang Tua

Oleh Salsabila Ainurrohman

Beti: mak, aku tuh kayaknya punya bipolar deh mak

Mak Beti: Bipolar tu apa?

Beti: itulo mak yang sedikit-sedikit emosi mledak-ledak, tapi trus bisa tiba-tiba sedih banget, tiba-tiba bahagia lagi, gitu mak

Mak Beti: lah apa itu kau kerasukan jin kali itu

Beti: engga lah mak, bipolar itu

Mak Beti: ngawur. Sini mak bawa kau ke ustad teman mak tu biar di ruqyah kau

 

 

 

Nah, gimana pula si Beti itu mau sembuh dari keluhan mentalnya sementara mama nya sendiri mengira dia kerasukan makhluk halus sampai harus di ruqyah. Pernah ngga kamu terjebak situasi mirip ilustrasi Beti dan Mak Beti di atas?

 

Memang bukan perkara mudah untuk mengkomunikasikan mental ilness pada orang tua. Apalagi mengingat stigma negatif yang masih sangat kuat di masyarakat, hingga berdampak sama kurangnya kesadaran akan sehat mental. Padahal sebenarnya masalah mental itu jauh lebih kompleks daripada masalah fisik lho. Lebih penting mana? Dua-dua nya sama penting, jadi mau sehat fisik atau mental harusnya sama-sama diperhatikan.

 

Faktor lain yang seringkali jadi penghalang untuk tidak menceritakan mengkomunikasikan mental ilness pada orang tua adalah adanya rasa takut dan khawatir. Takut orang tua ngga bakal nerima lah, takut orang tua kecewa, khawatir, atau bahkan ikut-ikutan depresi. Nah, untuk itulah supaya bisa mengatasi keluhan kesehatan mental kamu sama-sama, baiknya komunikasikan masalah kamu ke orang tua.

 

Psikolog klinis Dessy Ilsanti, M.Psi punya beberapa tips nya nih supaya kamu bisa mengkomunikasi masalah kesehatan mental kamu dengan baik sama orang tua kamu.

 

  1. Jelaskan Gejalanya, Bukan Labelnya

 

Kalau kamu njelasinnya macem Beti di atas tadi, bisa aja tuh berujung dikira kerasukan jin. Jadi, cara pertama mengkomunikasikan mental ilness pada orang tua baiknya jelaskan dulu symptom atau gejala-gejalanya. Misalnya ‘ma, kok Beti sering ngerasa sedih ya dan bikin Beti lelah, kepala Beti sering sakit juga…’ dst dst. Jangan lupa, jelaskan pelan-pelan supaya orang tua kamu bisa paham kondisi kamu yang sesungguhnya.

 

  1. Perjelas Keinginan Kamu

 

Kenapa penting buat mengkomunikasikan masalah mental illness ke orang tua? Ngga sekedar memberi tahu, mengkomunikasikan disini juga punya tujuan untuk get them involved, minta tolong sama orang tua supaya bisa membantu kamu melalui masa-masa sulit dengan segala keluhan mental yang kamu rasakan.

 

Selain itu, ada juga orang yang ingin menyampaikan masalah kesehatan mental ke orang tua karena sekedar untuk memberi tahu. Ini ngga masalah kok, yang penting kamu perjelas aja maksud sebenarnya dan apa yang kamu ingin orang tua kamu lakukan.

 

  1. Ngga Nyaman dengan Keluarga? Temukan Support System Alternatif

 

Walau bagaimana pun, keluarga adalah support system terdekat bagi kebanyakan orang. Tapi, kalau kamu merasa belum nyaman untuk terbuka sama orang tua kamu, coba temukan support system lain yang menurut kamu punya peran yang mirip seperti orang tua kamu. Orang yang kamu percaya dan nyaman untuk kamu ajak bicara, misalnya sahabat, pacar, atau kalau perlu temui psikolog untuk bisa langsung memeriksakan kondisi kesehatan mental kamu.

 

Nah, itulah beberapa tips mengkomunikasikan mental ilness pada orang tua. Apa pun keluhan yang kamu rasakan, baiknya jangan pendam itu sendirian ya. Ngga ada salahnya kok kamu cerita. Sharing itu bukan jadi pertanda kamu lemah, tapi justru menandakan kamu sadar akan pentingnya kesehatan mental kamu sendiri. Setuju?

 

Kalau kamu butuh teman cerita, kamu bisa juga kok curhat sama Bunda. Yuk curhat bareng ahlinya di www.ibunda.id atau LINE @Ibunda. Bunda siap hadir jadi pendengar terbaik sekaligus konselor pribadi buat kamu. #BeraniBercerita


Tanggapan mereka