Kata Bunda

Psychological First Aid untuk Korban Bencana

Oleh Salsabila Ainurrohman

Bencana alam seringkali datang tiba-tiba. Apalagi di Indonesia, yang disebut-sebut sebagai negara yang rentan dengan bencana alam seperti gunung meletus, gempa bumi, sampai tsunami, menuntut kita sebagai penghuninya untuk selalu siap menghadapi kemungkinan terjadinya bencana alam.

 

Dampak dari bencana alam pun ngga hanya meluluhlantahkan bangunan-bangunan di atas tanah dan meninggalkan luka-luka fisik, bahkan sampai meninggalkan korban jiwa. Untuk mereka yang selamat dan menyaksikan langsung kejadian mengerikan saat terjadi bencana, juga bisa terkena dampak yang ngga kalah fatal. Yup, benar. Trauma. Dan hal ini sangat membutuhkan pertolongan psikologis yang cepat.

 

Pada dasarnya, setiap orang punya kemampuan untuk memulihkan dirinya sendiri ketika dihadapkan dengan sesuatu yang traumatis. Namanya adalah resiliensi. Tapi, resiliensi tiap orang itu beda-beda, cepat atau engga nya seseorang untuk bisa pulih itu relatif. Akan lebih cepat lagi dengan melalui Psychological First Aid atau PFA.

 

Apa itu PFA?

 

Untuk para survivor bencana alam, adanya bantuan logistik yang mencukupi ngga serta-merta menyelesaikan masalah. Ada banyak korban yang mengalami trauma mendalam yang juga harus diperhatikan. Nah, PFA itu ibarat P3K buat mengatasi masalah kesehatan mental (seperti trauma pasca bencana).

 

Ketika ada korban bencana yang mengalami luka fisik misalnya, orang-orang pasti akan langsung mengarahkannya ke tim tenaga medis untuk diobati. Tapi, gimana dengan luka emosional yang ngga tampak secara kasat mata? Kebanyakan orang yang mengalami trauma malah melakukan denial dan membiarkan trauma tanpa berusaha untuk menghilangkannya. Faktanya, luka mental atau emosional kita itu sama pentingnya dengan luka fisik, sama-sama harus diobati.

 

Siapa yang Bisa Melakukan PFA?

 

Pertanyaannya, apa hanya psikolog, terapis, atau psikiater yang bisa melakukan PFA ini? Ternyata engga lho. PFA bisa dilakukan sama semua orang, karena menjadi seseorang yang menolong orang lain untuk kembali semangat dalam menjadi hidup itu kan ngga mesti harus jadi psikolog dulu. PFA ini juga bukan prosedur medis yang kaku yang mengharuskan seseorang untuk konsultasi detail kaya ke psikolog. Tapi jadi strategi untuk membantu korban supaya ngga ngerasa sendiri, ngerasa tenang, dan bisa dapat support emosional untuk mengobati trauma nya.

 

Dalam pertolongan psikologis ini sendiri, World Health Organization (WHO) menyebutkan 3 prinsip dasarnya yaitu:

 

  • Look (lihat): perhatikan sekitar tempat terdampak bencana, lihat adakah orang-orang di sekitar yang membutuhkan bantuan. Jangan lupa juga untuk mengamati situasi dan pastikan sudah aman.
  • Listen (dengarkan): dengarkan dan pahami apa yang dibutuhkan korban. Pastikan bahwa kita juga dalam kondisi tenang ketika mendengarkan. Jangan paksa orang untuk bercerita, cukuplah jadi pendengar yang baik dengan ajak dia bicara di tempat yang tenang.
  • Link (hubungkan): bantu korban untuk mendapatkan akses informasi ke tempat pelayanan umum seperti akses ke rumah sakit, psikolog, hingga kebutuhan logistik yang tersedia. Jadi, sebelum melakukan PFA ini jangan lupa cari-cari informasi dulu ya tentang pelayanan-pelayanan apa aja yang sudah tersedia untuk korban bencana.

 

Buat kamu yang ingin membantu mengembalikan semangat para korban bencana, kamu bisa melakukan strategi pertolongan psikologis ini untuk mereka. Memang, peristiwa yang meninggalkan luka psikis itu akan sulit disembuhkan, karena ngga tampak secara kasat mata seperti halnya luka fisik. Tapi, bukan berarti PFA ini jadi sia-sia buat dilakukan. Dengan PFA, diharapkan korban terdampak bencana alam bisa pulih dari luka nya secara psikis, atau setidaknya mengembalikan semangat mereka untuk menjalani kehidupan normalnya seperti sedia kala.


Tanggapan mereka