Masalah Diri

Resiko Gangguan Mental pada Pekerja Seks

Oleh Ibunda Official

Baru-baru ini jagat media tanah air lagi rame sama pemberitaannya sebut saja dia VA, yang tercyduk kasus prostitusi online. Udah pada tau dong? Nah, dibalik naiknya pemberitaan tentang prostitusi ini, pernah ngga sih kamu bertanya-tanya, sebetulnya kenapa ada orang yang mau menjalani kehidupan sebagai pekerja seks komersial? Tampak luar mungkin terlihat bergelimang harta, tapi sebenarnya gimana ya kondisi kesehatan mental mereka?

 

Berkaitan dengan fenomena ini, ternyata udah ada banyak riset yang dilakuin lho yang bisa menjelaskannya secara lebih scientific! Di Swiss misalnya, Wulf Rössler dari Psychiatric University Hospital Zurich pernah meneliti tentang alasan dibalik pilihan para perempuan yang bekerja sebagai pekerja seks komersial. Sebanyak 37% menyebutkan karena mereka menyukai apa yang mereka kerjakan, 29% beralasan karena ngga bisa mendapatkan pekerjaan lain, 26% untuk membantu keluarga, 24% untuk membayar tagihan, sampai alasan untuk membeli obat-obatan terlarang, dan terpaksa sama keadaan untuk melakukannya.

 

Lalu sebenarnya ada ngga sih kaitannya antara pekerja seks komersial dengan kesehatan mental? Jawabannya ada! Nih, salah satu bukti scientific nya ada dalam risetnya Carmen P. McLean dkk dari National Center for PTSD, VA Boston Healthcare System yang menemukan bahwa terdapat 50% lebih pekerja seks komersial yang mengalami gangguan mental. Mulai dari gangguan mood, gangguan kecemasan ataupun post-traumatic stress syndrome. Bahkan angka ini dikatakan lebih tinggi resikonya dibandingkan perempuan yang lainnya. Kok bisa ya?

 

Ternyata, pekerja seks komersial lebih rentan mengalami gangguan mental karena 3 faktor ini, yaitu lingkungan bekerja, dukungan sosial, dan kekerasan seksual. Seperti yang kita tahu, kalau tempat bekerja mereka ini ada di berbagai tempat. Mulai dari pinggir jalan, di hotel, di bar, diskotik, apartemen, bahkan sampai pinggir kali.. Coba deh bayangkan, sebenarnya ada banyak sisi menderitanya lho mereka ini. Nah, berdasarkan 3 faktor tersebut ditemukan korelasinya dengan tingkatan kesehatan mental mereka.

  

  • Mereka yang tinggal di rumah bordil

 

Mereka yang ada di lingkungan bekerja ini mengalami tingkat dukungan sosial yang rendah. Ya gimana engga? Cuma denger bahwa itu rumah bordil aja hujatan masyarakat ke mereka udah setinggi langit di angkasa seluas jagat raya sedalam samudera gak tuh..

 

Mereka juga kerap kali mengalami kekerasan, tekanan psikologi bahkan pemerkosaan. Inilah kenapa PSK di kawasan rumah  bordil sangat beresiko mengalami kondisi kesehatan mental yang buruk.

  

  • Mereka yang bekerja sebagai wanita simpanan

 

Kalau yang satu ini, mereka biasanya bekerja di tempat yang lebih nyaman seperti dirumah atau apartemen. Karena jadi simpanan, jadi gak semua orang tau.. Dan karena ngga ketauan ini lah biasanya mereka lebih memiliki dukungan sosial yang lebih baik sama seperti orang-orang pada umumnya. Dukungan sosial ini pun sejalan dengan kondisi kesehatan mental yang cukup baik.

 

  • Mereka yang bekerja di area publik. 

 

Nah untuk PSK yang “menjajakan” jasa nya di pinggir-pinggir jalan di tempat-tempat tertentu, mereka lebih sedikit mendapatkan dukungan dari lingkungan sosialnya. Mereka juga ngga jarang mendapatkan cibiran keras dari lingkungan sosialnya, sementara si “pembeli” bisa hidup bebas berkelana tanpa orang lain tau sisi gelapnya. Ironis bukan? Itulah kenapa lebih dari 58% dari PSK di jalan ini mengalami gangguan mental karena pekerjaan yang ia geluti.

 

Ada juga mereka yang bekerja di area publik, macem di salon, di cafe, bar, diskotik dst dst. Pada kategori ini, mereka lebih banyak mengalami kekerasan justru diluar “bekerja”, tetapi memiliki kecenderungan gangguan mental yang tidak separah mereka yang "bekerja" di pinggir-pinggir jalan sepi. 

 

Intinya adalah para pekerja seks komersial ini ternyata sangat rentan mengalami gangguan mental karena pekerjaan yang mereka pilih. Ini baru gangguan mental lho ya, belum munculnya resiko penyakit seksual yang ngga hanya membahayakan dirinya sendiri, tapi juga orang lain.

 

Walaupun begitu, kesayangan Bunda tetap harus menjaga ucapan dan perilaku ya dalam memandang fenomena ini. Kita semua tahu bagaimana ngga enaknya diperlakukan ngga baik oleh orang yang bahkan ngga mengenal kita dengan baik. Sama aja, mereka juga merasakan hal itu. Jadi, lebih baik diam daripada bicara tapi menyakitkan orang lain kan?


Tanggapan mereka