Masalah Diri

Suka Menyiksa Hewan, Kenapa Ya?

Oleh Ataya Suyoto

Ada yang sering melihat video-video orang yang menyiksa hewan? Mulai dari kuda yang dipecut, kucing dilempar, anjing dipukul, dan banyak penyiksaan lainnya. Semakin kesini banyak video-video penyiksaan hewan yang beredar di sosial media. Entah hanya sekedar iseng, menganggap ini lucu-lucuan atau ingin mencari popularitas. Belakangan ini juga beredar nih video dimana ada beberapa remaja yang menyodorkan alkohol ke hewan-hewan di dalam kebun binatang. Padahal itu termasuk perilaku kekerasan lho karena mereka sudah melanggar hak asasi hewan. Bedanya karena hewan tidak bisa bicara, jadi sulit menjelaskan kalau tindakan manusia ke mereka itu sudah melanggak hak asasinya.

Nah, sebenarnya perilaku yang menyakiti hewan ini wajar gak sih? Bisa dikatakan sebagai wajar karena sekedar iseng atau justru menggambarkan kemungkinan kerusakan mental si pelaku? Buat kamu yang penasaran, kali ini psikolog Alexandra Gabriella akan membahasnya. Yuk, ketahui lebih lanjut!

 

Antisosial

Orang-orang yang menyakiti hewan bisa jadi karena ia memiliki masalah mental yang disebut sebagai kepribadian antisosial disorder atau memiliki kecenderungan psikopat. Orang dengan gangguan kepribadian ini memiliki kesulitan untuk berempati. Mereka cenderung tidak bisa memikirkan apa yang orang lain pikirkan atau acuh terhadap persepsi orang lain terhadap dirinya. Mereka sulit merasakan perasaan orang lain (apalagi hewan) sehinga ia tidak memiliki perasaan apapun saat menyakiti hewan ataupun orang lain. Jadi terkesan seperti cuek mau si hewan merasa kesakitan atau apapun. Pasti kamu bertanya-tanya, kok bisa sih setega itu dengan seekor hewan? Hal ini salah satunya bisa karena abnormalitas pada perkembangan struktur otak, sehingga kesulitan untuk mempertimbangkan perilakunya dan sulit untuk mengenali emosi orang lain.

Lalu bagaimana ya menangani orang yang memiliki kecenderungan psikopat seperti ini? Sebenarnya sangat sulit kalau ini sudah terjadi pada orang dewasa, cukup sulit untuk mengubahnya. Ini dikarenakan mereka sudah tidak ada empati jadi cenderung bodo amat dengan masukan orang lain.  Namun, kalau si pelaku masih kecil atau remaja ada kesempatan untuk menyalurkan kesukaan mereka melakukan kekerasan ini ke hal lain. Seolah energi dan obsesi mereka terhadap hal-hal sadis bisa digunakan ke hal-hal positif, seperti membuat novel atau film-film meski masih berbau kesadisan tapi setidaknya tidak merugikan orang lain. Oh iya, mereka juga perlu lho diajarkan empati dengan mengajak diskusi soal “bagaimana rasanya kalau disakiti?” Kemudian jelaskan bahwa rasa sakit yang ia alami juga bisa dirasakan oleh hewan atau orang lain. Dengan begitu mereka bisa belajar untuk tidak menyakiti makhluk hidup di sekitarnya.

 

Narsistik

Siapa nih di antara kamu yang tidak suka mendapatkan perhatian? Ternyata ada beberapa orang yang mencari perhatian dengan menyakiti binatang. Perhatian atau atensi publik kan bisa didapat lewat perilaku yang positif ataupun yang negatif. Mereka melakukan perilaku sadis agar dianggap “unik”  dan mendapat perhatian dari masyarakat atau karena merasa itu sebagai perilaku yang seru. Perilaku sadis ini bisa terjadi dikarenakan sering melihat perilaku kasar, sehingga merasa terbiasa dan merealisasikannya.

Kalau melihat seseorang yg narsistik sebenarnya masih lebih mudah untuk diarahkan. Jangan segan-segan untuk memperingatkan mereka agar segera sadar. Begitu juga dengan orang tua penting banget menanamkan adanya empati selagi masih mudah agar tidak terbiasa berperilaku negatif.

 

Nah, sekarang kamu sudah tau nih beberapa penyebab seseorang melakukan perilaku kasar pada hewan. Sebelum terlambat ada baiknya kamu bisa belajar dan saling mengajarkan soal empati. Sehingga tidak menyakiti atau lebih parah lagi bisa membunuh hewan. Untuk kamu yang melihat perilaku seperti ini atau kesulitan membangun empati bisa lho langsung curhat sama Bunda. Bisa langsung ke www.ibunda.id atau LINE di @Ibunda.


Tanggapan mereka