Masalah Diri

Takut dengan Penolakan? Coba Lakukan Ini 

Oleh Ibunda Official

 

if you live for people's acceptance you will die from their rejection

-Lecrae-

 

Siapa sih orang di dunia ini yang suka sama yang namanya penolakan? Namanya penolakan itu memang pasti menyakitkan, tapi akan terasa jauh lebih menyakitkan ketika kita belum siap menghadapinya. Setiap harinya, kita bisa aja berhadapan dengan penolakan yang gak terduga. Gak usah jauh-jauh ditolak gebetan atau ditolak kerjaan deh, ditolak sama abang ojol aja pasti sebel dan rasanya pengen marah kan? 

Merasakan emosi yang gak menyenangkan ketika mendapat penolakan itu wajar dan normal kok. Tapi, ketika penolakan ini bikin kita jadi serba ketakutan, jadi selalu menghindar, bahkan memilih buat mengisolasi diri di kamar daripada ketemu orang lain, mungkin saat itulah kamu mengalami fear of rejection atau ketakutan akan penolakan.

 

Baca Juga: Kenapa Aku Selalu Ingin Marah?

 

Apa sih ketakutan akan penolakan itu? Psikolog Ibunda, Emeldah, M.Psi menjelaskan, ketakutan akan penolakan adalah suatu ketakutan yang gak rasional, yang meyakini bahwa orang lain gak akan menerima diri kita dengan berbagai alasan. Bisa karena pendapat kita, kepribadian, kepercayaan, atau karena penampilan kita. Ketakutan ini akan membuat kita merasa tertekan dan akibatnya kita bisa jadi stres, depresi, atau super sensitif sehingga gampang nangis atau marah. Efek lainnya, hal-hal tersebut akan mempengaruhi hubungan kita dengan orang lain, interaksi sosial kita, bahkan prospek karir kita ke depan.

Seseorang yang mengalami fear of rejection ini juga biasanya takut berpendapat, menjadikan pendapat orang lain sebagai acuan kebenaran, selalu meniru orang lain karena takut menjadi diri sendiri, mood-nya sangat dipengaruhi sama respon orang lain, dan seringkali merasa bersalah kalau gak bisa membuat orang lain senang. 

Ketika kita takut akan penolakan, sebenarnya kita itu takut kalau apa yang kita percaya selama ini benar adanya. Misalnya, kita percaya kalau kita memang gak pantas buat dicintai, memang ditakdirkan untuk sendiri, dan lain sebagainya. Padahal, hal-hal seperti ini ternyata keliru. Dalam istilah psikologis ini disebut dengan distorsi kognitif. Jika kita mengalami ini, trus harus gimana dong? Psikolog Emeldah juga berbagi tipsnya nih buat kamu.

Identifikasi

Pertama, kita perlu mengenal dulu apa yang sebenarnya kita inginkan dan kita takutkan. Supaya pada akhirnya kita bisa mengevaluasi distorsi kognitif tersebut. Coba tanyakan ke diri sendiri, “Apa yang aku inginkan?”. Misalnya, aku ingin bisa bergaul dengan orang-orang di tempat kerja yang baru. Lalu, “Apa yang membuat aku takut?”. Misalnya, aku takut ditolak karena aku tidak cukup pintar, dan lain-lain. 

Evaluasi

Setelah kita selesai mengidentifikasi, cobalah belajar membuat pemikiran alternatif dari hasil identifikasi kita tersebut. Misalnya, coba tanyakan lagi ke diri sendiri, “Apakah benar penolakan hanya karena kepintaran?”. Ada beberapa orang yang mungkin ga cukup pintar tapi tetap bisa diterima di lingkungan kerjanya. “Potensi apa yang dimiliki orang tersebut?”. Misalnya, dia adalah tipikal orang yang terus berusaha untuk belajar dan ga malu untuk bertanya, dan lain-lain. 

Setelah melakukan kedua langkah tersebut, kita akan punya peta pemikiran yang jelas tentang ketakutan-ketakutan kita. Namun perlu diingat nih, kalau proses ini gak bisa dilakukan sekali dua kali aja, tapi harus dilakukan secara berkala setiap rasa takut itu muncul. Di sisi lain, kita perlu ingat bahwa kita ga bisa mengatur pendapat orang, yang bisa kita atur adalah respon kita sendiri. Janganlah berhenti untuk terus kembangkan diri kamu, pelajari banyak hal baru, karena pada akhirnya ketika kita sudah mengenal diri dan nyaman dengan diri kita sendiri, pendapat orang lain gak akan lagi mempengaruhi kita.

 

Baca Juga: Tips Mengelola Emosi Negatif

 

Nah, itulah beberapa tips yang bisa kamu lakukan jika kamu merasa mengalami ketakutan akan penolakan. Jika perasaan negatif yang kamu rasakan gak kunjung hilang dan sampai mengganggu produktivitas kamu sehari-hari, mungkin konsultasi ke psikolog adalah hal yang kamu butuhkan saat ini. Kamu juga bisa mulai konseling dengan psikolog ibunda di sini. Semoga membantu! 




Tanggapan mereka