Masalah Diri

Terobsesi Punya Tubuh ‘Sempurna’? Hati-hati BDD

Oleh Salsabila Ainurrohman

Kalau DBD singkatan dari demam berdarah, bukan berarti BDD jadi berdarah-darah demam, tapi BDD adalah singkatan dari Body Dysmorphic Disorder yang berarti obsesi berlebihan sama bentuk tubuh yang sempurna. Wadaw~  padahal kan ngga ada makhluk yang sempurna ya kan..

 

Banyak di antara kita pasti punya sesuatu yang ngga disukai dari penampilan sendiri. Idung yang terlalu mancung misalnya, rambut yang terlalu keriting, mata terlalu sipit, dst dst. Tapi kekhawatiran ini ngga gitu ngaruh sama produktivitas kehidupan sehari hari. Beda halnya sama orang yang punya gangguan body dysmorphic disorder atau BDD.

 

Apa sih BDD itu?

 

Orang yang BDD atau punya obsesi berlebih dengan bentuk fisik yang ‘sempurna’, biasanya bakal menghabiskan kebanyakan waktunya untuk mengkhawatirkan penampilannya, entah di depan cermin maupun di depan orang lain. Mereka mengalami kesulitan dalam menghilangkan pikiran negatif tentang diri mereka diri, padahal kenyataannya ngga ada yang salah dengan penampilannya. Pikiran-pikiran negatif ini lah yang bisa menimbulkan tekanan-tekanan emosional yang mengganggu aktivitas mereka sehari-hari.  Jadi mengisolasi diri, sering merasa cemas, bahkan sampai depresi.

 

Data dari Adaa.org menyebutkan menyebutkan, kalau BDD ini mempengaruhi 1 dari 50 orang, dan biasanya mulai terjadi di usia 12-13 tahun. Jumlah ini bisa aja semakin bertambah karena media sosial, di mana makin banyak orang yang khawatir melihat penampilan mereka sendiri secara online. Beberapa bahkan terobsesi untuk melakukan operasi plastik.

 

Apa aja gejala BDD?

 

Orang yang mengalami BDD punya kesulitan dalam mengendalikan fokus mereka, kecuali fokus dengan ketidaksempurnaan dirinya sendiri. Penderitanya bisa melakukan beberapa perilaku berulang-ulang untuk menyembunyikan ‘ketidaksempurnaan’ yang mereka rasakan.

 

Misalnya; menutupinya dengan topi, make up, atau bahkan melakukan operasi plastik, sering membandingkan penampilan diri dengan orang lain, terlalu sering bercermin atau bahkan menghindari diri melihat cermin, melakukan perawatan yang berlebihan, sampai diet ketat padahal badannya ngga gendut-gendut amat.

 

Kenapa orang bisa mengalamni BDD?

 

Sebenarnya belum ada riset pasti yang menjawab hal ini. Tapi, melansir dari HelloSehat, pengalaman pernah jadi korban bully semasa kecil, adanya tekanan sosial, punya anggota keluarga yang BDD, sampai adanya gejala gangguan mental bisa jadi beberapa faktor yang meningkatkan resiko BDD.

 

Tapi hati-hati, jangan sampai kamu self diagnose lho ya. BDD ini tergolong gangguan mental yang cukup serius lho, sama kaya Anorexia, Bulimia, OCD, sampai depresi. Jadi, kalau sekiranya kamu merasa punya gangguan BDD baiknya segera temui psikolog atau psikiater yaa.

 

Atau mau cerita dulu sama Bunda? Boleh banget. Kamu bisa curhat gratis sama iBunda di www.ibunda.id. Bunda siap pendengar terbaik buat kamu, di mana aja, kapan aja!


Tanggapan mereka