Kata Bunda

Ujaran Kebencian Dilihat dari Sisi Psikologisnya

Oleh Salsabila Ainurrohman

Harusnya, memilih yang satu bukan berarti boleh menjatuhkan yang lainnya dong. Ini mah, debat capres nya aja beloman, lah udah rame duluan netijen nya. Ngeributin Jokowi vs Prabowo menang mana. Sedihnya sampai banyak yang bikin konten yang isinya ujaran kebencian sampai SARA. Atuh bendera merah putih nangis liatnya ntaran.. Kenapa kita harus saling membenci.. kenapaaa….



Benci di Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya sangat tidak suka. Definisi yang sangat mencerahkan bukan? Nah, sekarang ini benci ngga melulu bisa ditujukan sama orang yang dikenal aja. Sama orang yang bahkan belum pernah liat ujung idungnya sekalipun bisa aja muncul rasa benci.

 

Kenapa Ada Orang yang Suka Berujar Kebencian? 

 

Psikiater Dr Shimmy Kang menyebutkan, rasa benci, rasisme, dan prasangka adalah sesuatu susah buat dipisahkan dari kehidupan sosial manusia. Ngga cuman di era serba swipe sekarang, tapi dari zaman nenek moyang masih hidup nomaden juga dah ada tuh rasa benci.

 

Melansir dari Tirto.id nih, ada beberapa faktor yang memotivasi seseorang melontarkan ujaran kebencian. Pertama, karena adanya prasangka buruk sama orang atau kelompok yang bersangkutan, rasa kecewa, dan adanya perasaan terancam yang bikin seseorang jadi defensif sampai melontarkan ujaran kebencian.

 

Orang yang doyan menyebarkan ujaran kebencian juga diindikasi punya masalah sama psikologisnya, salah satunya adalah manajemen emosinya yang ngga bagus. Kalau kata risetnya Dr. Alvin F. Poussaint, rasa benci yang berlebihan yang sampai ngaruh ke tindakan ekstrim bahkan bisa jadi mengindikasikan isu gangguan mental yang berbahaya, misalnya paranoia, social phobia, dan lain-lain. Nah lho.. tiati makanya.

 

Apa yang Harus Dilakukan?

 

Kebencian itu juga nular lho. Itulah kenapa kita butuh yang namanya ‘social diet’ atau mulai lebih selektif memilih orang-orang di lingkaran terdekat kita. Sama kaya diet fisik, dimana kita berusaha untuk makan yang sehat-sehat aja biar badannya sehat, ‘social diet’ juga kurang lebih sama. Untuk punya pemikiran yang lebih positif, usahakan kita juga berada di lingkungan yang bisa memberikan dampak positif ke diri kita. Termasuk dengan memulai untuk ngga follow orang-orang yang sering bikin konten ujaran kebencian.

 

Selain itu, pola pengasuhan dan pendidikan juga bisa jadi salah satu faktor penting untuk mengurangi generasi ‘pembenci’ ini. Manusia itu beraneka ragam, ngga cuman wajahnya, rambutnya, sampai berat badannya, tapi juga pola pikirnya. Dan untuk menghindari konflik karena kebencian, baiknya kita kenal dulu sama yang namanya toleransi dan empati. Kalau katanya psikiater Dr Shimmy Kang nih, semakin seseorang berusaha untuk saling mengenal satu sama lain, semakin sedikit rasa benci dan rasisme yang bisa muncul.

 

Nga kenal, maka nga shayang, yhaa kaan? Jadi, kalau kamu pilih Jokowi atau Prabowo? Eh..


Tanggapan mereka